Working Holiday di Australia – Irham Faridh Liburan Sambil Jadi Petani Buah

Irham Faridh adalah blogger asal Bandung yang belum lama ini pulang working holiday dari Australia. Setahun di negeri kanguru, pria yang gemar memasang tagar #AkangBolang ini menyusuri Australia dari utara ke selatan untuk jalan-jalan sambil bekerja di perkebunan.

Redaksi Wego mewawancarai Irham Faridh melalui telepon tentang suka duka working holiday dan tahap-tahap yang harus ditempuh jika ingin mengajukan Working Holiday Visa Australia.

Buat yang belum tahu, Working Holiday Visa adalah visa yang dikeluarkan pemerintah Australia untuk anak-anak muda yang ingin liburan sambil bekerja di Australia.

Kalau Wegonesia berusia 18-30 tahun, sudah pernah belajar di perguruan tinggi selama minimal 2 tahun, punya skor IELTS yang memadai, dan memiliki dana/surat jaminan bank sebesar Rp50 juta, berarti kamu sudah memenuhi syarat administratif untuk mengajukan Working Holiday Visa (WHV) Australia.

Alasan Irham Faridh working holiday di Australia?

“Awalnya tahu WHV dari teman Couchsurfing yang sudah pernah working holiday di Australia.”

“Selain itu, karena dulu aku kuliah di Manajemen Bisnis Telkom University, memang rencana pengin bisnis, tapi mau cari modal dulu sekalian traveling,” papar Irham dengan logat Sunda yang kental.

Memilih Kota Tujuan Working Holiday

Kebanyakan orang yang kerja sambil liburan di Australia memilih Darwin, Sydney, dan Melbourne sebagai kota tujuan. Namun, Irham Faridh berbeda. Ia memilih Brisbane sebagai destinasi pertama working holiday-nya.

Barang bawaan Irham Faridh pergi ke Australia selama setahun

Barang bawaan Irham Faridh pergi ke Australia selama setahun

“Karena aku suka yang anti-mainstream, aku pilih Brisbane. Ketika aku ke sana, cuma ada sekitar 3 orang Indonesia,” ungkap pria yang gemar jalan-jalan dengan gaya backpacking ini.

Sesampainya di Brisbane, ia tinggal selama satu minggu di hostel sebelum pindah ke kamar sewaan. Yang pertama dilakukan adalah membeli kartu SIM, buka rekening di Commonwealth Bank, dan membuat TFN (tax file number). Nah, yang terakhir ini wajib dibuat jika ingin bekerja di Australia.

Ternyata, saking anti-mainstream-nya, Irham sulit dapat kerja dan malah jalan-jalan terus di Brisbane.

Kemudian, Irham memutuskan untuk pindah ke Darwin di Northern Territory. Dengan bekal uang dari rumah, ia membeli Toyota Camry tahun ‘94 seharga AUD1,800 yang masih mulus. Di Darwin, “karier”-nya sebagai petani buah dimulai.

Toyota Camry ‘94 yang menemani Irham Faridh menyusuri Australia dari utara ke selatan

Toyota Camry ‘94 yang menemani Irham Faridh menyusuri Australia dari utara ke selatan

Jadi Petani di Australia

Di Darwin, ia memulai pekerjaan pertamanya sebagai petani penuh waktu di perkebunan mangga. Selama dua minggu, ia bekerja dari matahari terbit sampai terbenam untuk memanen buah dengan bayaran AUD21 per jam.

Pekerjaan pertama Irham Faridh di Darwin adalah petani penuh waktu di perkebunan mangga

Pekerjaan pertama Irham Faridh di Darwin adalah petani penuh waktu di perkebunan mangga

“Tapi pekerjaannya berat, nggak berhenti dari matahari terbit sampai terbenam, dan kejar target juga,” jelas Irham menanggapi respons Wego yang terkejut dengan tingginya bayaran di kebun mangga tersebut.

Setelah selesai di perkebunan mangga, Irham pindah ke pusat kota Darwin kemudian bekerja serabutan sebagai office boy, pencuci piring, dan pengirim brosur.

“Kok bisa kerja serabutan di Australia?” tanya Wego.

“Ada website gumtree.com.au yang menyediakan info lowongan kerja. Banyak lowongan kerja harian juga,” jawab Irham.

Selesai di Darwin, Irham melanjutkan perjalanannya ke wilayah Northern Territory lain, yaitu Katherine. Di sana, ia kembali bertemu mangga, tapi kali ini tidak bertugas memanen, melainkan mengemas mangga ke dalam kardus.

Setelah 3 minggu bekerja di tempat pengemasan mangga, ia melanjutkan pekerjaannya di kota-kota lain, seperti Cairns, Corindi Beach, dan Renmark. Di Cairns, ia bekerja di perkebunan mangga dan leci, sedangkan di Corindi Beach, ia menjadi petani raspberry.

Di penghujung masa working holiday-nya, Irham Faridh mengambil shift malam di pabrik pengemasan jeruk dengan bayaran AUD25 per jam. Ia bekerja mulai pukul 16.00 sampai pukul 04.00 keesokan paginya. Semalaman, ia bekerja sebagai citrus packer untuk membuat kardus jeruk.

Bekerja dari satu kebun ke kebun lain seperti yang Irham lakukan sebenarnya sangat memungkinkan untuk dilakukan siapa saja. Kamu bisa browsing tentang Harvest Trail, sebuah program pemerintah yang memungkinkan pencari kerja musiman (termasuk pemegang WHV) untuk mendapat uang sambil jalan-jalan keliling Australia mengikuti musim panen.

Bersama teman-teman di pabrik pengemasan jeruk di Renmark

Bersama teman-teman di pabrik pengemasan jeruk di Renmark

Suka Duka Working Holiday di Australia

“Paling enak waktu jadi petani raspberry di Corindi Beach, mulai kerja pukul 5.30 sampai 12.00 siang, lalu sorenya main di pantai dekat rumah,” jelas Irham.

“Selain itu, enaknya juga bisa jalan-jalan keliling Australia, pernah roadtrip dari Darwin ke Cairns melewati gurun-gurun pasir, menyusuri pantai-pantai cantik di East Coast-nya Australia dari Cairns sampai ke Brisbane dan Gold Coast, lalu main juga ke kota-kota modern seperti Adelaide, Sydney, dan Melbourne.”

Irham Faridh di Perry Sandhills, Wentworth, New South Wales

Irham Faridh di Perry Sandhills, Wentworth, New South Wales

“Kalau nggak enaknya?” tanya Wego.

“Kalau yang nggak enak itu pekerjaan pertama jadi pemetik mangga di Darwin. Kerja di bawah teriknya matahari dari terbit sampai terbenam, badan kena getah mangga, dan harus kejar target. Beda dengan di Corindi Beach yang bayarannya dihitung berdasarkan jumlah buah yang kita petik,” jelas Irham.

Pelajaran Hidup dari Working Holiday di Australia

Meskipun tidak semua ceritanya soal senang-senang, Irham Faridh tetap merekomendasikan Wegonesia untuk mencoba working holiday di Australia.

“Banyak banget pelajaran yang aku dapat selama working holiday. Berangkat dari rumah aku nggak tahu mau kerja apa, jadi di sana benar-benar usaha, dan mau kerjain apa aja.”

“Juga belajar untuk tidak melihat sesuatu dari segi materi aja, karena di samping uang, banyak sekali pengalaman aku dapat,” jelas pemuda berusia 23 tahun ini.

Irham Faridh di perjalanan roadtrip Darwin-Cairns

Di perjalanan roadtrip Darwin-Cairns

Sebelum berangkat working holiday, Irham sempat bercita-cita ingin lanjut tinggal di Australia supaya punya gaji besar. Namun, setelah melewati masa-masa kerjanya di sana, Irham berubah pikiran. Ia lebih ingin segera pulang ke Indonesia, mapan di tanah air, baru liburan lagi ke Australia!

Langkah-Langkah Mendapatkan Working Holiday Visa

Di awal wawancara, Wego bertanya, “Susah nggak, sih, seleksi Working Holiday Visa?”

“Sebenarnya nggak susah, cuma memang harus sabar,” ungkap Irham.

Kuota Working Holiday Visa adalah 1.000 orang per tahun dan di-reset setiap bulan Juli. Dari proses pendaftaran sampai visa keluar, Irham Faridh membutuhkan waktu 5 bulan, ditambah 3 bulan persiapan sebelum akhirnya berangkat.

Berikut ini langkah-langkah mendapatkan Working Holiday Visa (WHV) Australia:

  • Mendapatkan surat rekomendasi dari Ditjen Imigrasi

Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengajukan Working Holiday Visa adalah mendapatkan surat rekomendasi dari Ditjen Imigrasi Indonesia.

Tahap-tahap yang harus dilakukan untuk mendapatkan surat tersebut adalah mendaftar online di situs Ditjen Imigrasi, wawancara, lalu mendapatkan surat rekomendasi. Saat mendaftar online, kamu harus mengisi formulir berisi nomor paspor, skor IELTS, dan jumlah tabungan.

Irham mendaftar pada bulan Februari 2015 dan mendapat jadwal wawancara di Ditjen Imigrasi pada 6 Mei 2015. Surat rekomendasi dari Ditjen Imigrasi keluar pada 25 Juni 2015.

  • Mengajukan aplikasi ke Australian Visa Application Centre (AVAC)

Langkah kedua adalah memasukkan aplikasi ke Australian Visa Application Centre (AVAC) yang dikelola oleh VFS Global, sebuah perusahan yang ditunjuk pemerintah Australia untuk mengurus permohonan pengajuan visa.

Pada 1 Juli 2015, Irham mengajukan permohonan visa di kantor VFS Global Jakarta, tepatnya di Kuningan City, Jakarta Selatan. Prosesnya tidak lama, hanya sekitar 15 menit.

  • Cek kesehatan

Langkah ketiga adalah cek kesehatan. Sembilan hari setelah mengajukan permohonan visa ke kantor VFS Global, tepatnya tanggal 10 Juli 2015, Irham mendapatkan HAP ID. Ini digunakan untuk cek kesehatan di rumah sakit yang telah ditunjuk pihak Kedutaan Australia.

Setelah hasil cek kesehatan keluar, pihak rumah sakit akan mengirim langsung ke VFS Global.

  • Hore, visa granted!

Berselang 4 hari setelah tes kesehatan, Irham mendapatkan email berisi informasi visa granted.

Kalau visa sudah di tangan, kamu bisa berangkat kapan saja dan pulang kapan saja, selama masih dalam kurun waktu 12 bulan berlakunya visa.

Nah, sebelum berangkat, kamu bisa ngobrol dengan sesama pemegang WHV atau alumni di grup Facebook WHV Indonesia. Di grup ini, kamu bisa dapat pengetahuan, cari info, sekalian cari tempat tinggal, lho.

Selama working holiday, pengeluaran Irham setiap minggu rata-rata AUD200, yang mencakup makan, sewa kamar, bensin, dan pulsa. Nah, dengan honor bekerja yang sudah disebutkan di atas, Wegonesia bisa menghitung sendiri berapa banyak yang bisa ditabung saat working holiday di Australia.

Buat kamu yang tertarik berlibur sambil bekerja di Australia seperti Irham Faridh, Wego doakan semoga berhasil, ya.

Mau kenal Irham Faridh lebih jauh atau tanya-tanya soal working holiday? Silakan menyapanya di sini:

Blog: http://www.irhamfaridh.com

Twitter: @irhamfaridh

Instagram: @irhamfaridh

Facebook: Irham Faridh Trisnadi

Comments


Sumber : Wego.co.id