Praperadilan Walkot Nonaktif Batu, KPK Ungkap Kode ‘Undangan’

Jakarta – KPK membeberkan isi percakapan Wali Kota nonaktif Batu, Eddy Rumpoko dalam sidang praperadilan. KPK menyebut pemberi suap yakni Filipus Djap memakai istilah ‘undangan’ untuk memberikan uang terkait pengurusan proyek.

Anggota biro hukum KPK, Efi Laila membacakan kronologi penangkapan Eddy Rumpoko bersama pemberi uang Filipus Djap dan Kepala Bagian Layanan dan Pengadaan (Kabag ULP) Pemkot Batu Edi Setyawan.

Dari penyelidikan sejak 8 Agustus 2017, KPK memantau adanya permintaan uang terhadap Filipus lebih dari satu kali melalui Edi Setiawan pada 2016. Permintaan tersebut untuk membayarkan utangnya terkait pembelian mobil Alphard.

Kemudian pada bulan April 2017 Eddy menawari Filipus terkait pekerjan pengadaan mebel kantor Walkot Batu tahun anggaran 2017 sebelum diadakan pengumuman lelang. Eddy menyebut Filipus bisa memenangkan lelang asalkan mau membayar fee proyek 10% dari total proyek senilai Rp 5,6 miliar.

Kemudian saat pengumuman lelang, PT Dailbana Prima Indonesia dinyatakan sebagai pemenang lelang sehingga Filipus berjanji akan memenuhi syarat tersebut.

Lalu disepakati Filipus akan memberikan uang Rp 500 juta dengan rincian Rp 300 juta untuk pembayaran utang mobil Alphard dan Rp 200 juta secara tunai. Serta uang sebanyak Rp 100 juta diserahkan ke Edi Setiawan.

Pada tanggal 15 September Filipus mendapat informasi terkait telah direalisasikannya pencairan anggaran atas belanja modal peralatan dan mesin pengadaan Meubelair, setelah itu dia menyiapkan uang Rp 300 juta untuk diberikan ke Eddy pada keesokan harinya.

Filipus meminta waktu yakni pada tanggal 16 September akan memberikan uang dengan kode ‘undangan’. Eddy pun sepakat mengenai hal itu.

Setelah itu, Filipus menghubungi Edi Setiawan dan mengajaknya bertemu pada 16 September dengan maksud memberikan uang. Berikut ini isi komunikasi antar keduanya.

“…sudah telpon Bos, besok juga mau kasih ‘undangan’. Bos bilang langsung ke dia undangannya.. Baru kelar cetak hari ini ‘undangan’ mau gimana, ini saja lagi usahain ke percetakannya langsung ngambil,” kata Filipus.

Keesokan harinya tanggal 16 September Filipys berkomunikasi dengan Edi Setiawan dan menyampaikan akan memberikan undangan itu sebelum dirinya pergi ke Surabaya.

Awalnya Eddy tidak mengangkat telepon Filipus, akan tetapi Filipus ditelepon balik oleh Eddy, Filipus pun menawarkan Eddy untuk bertemu sambil makan siang di Hotel Amarta Hills.

Eddy setuju dan bermaksud mengajak kapolres setempat, namun Filipus meminta keduanya bertemu dengan empat mata karena ingin memberikan uang. Filipus sempat menanyakan ingin mampir di rumah Eddy namun Eddy menyebut akan kembali mengkontaknya.

Berikut ini isi transkrip pembicaraannya:

Singkatan PHL disebut Filipus Djap sedangkan ERP adalah sebutan Eddy Rumpoko.

PHL: Posisi di rumah ya?
ERP: Belum mandi, belum makan, tidur, masih tidur
PHL: Oh masih tidur? Saya meluncur ke Batu
ERP: Oh
PHL: Tak mampir pak ya
ERP: Hotelnya rame?
PHL: Sepi
ERP: Oh ya?
PHL: He-eh apa mau makan di hotel pak?
ERP: Boleh juga ya
PHL: Makan di hotel ya, saya tunggu di hotel saja ya
ERP: He-eh, tak telfon pak Kapolres, pak Pak Kapolres gak ada acara, tak telfon ya
PHL: Ee.. Kalau bisa kita ketemu empat mata dulu pak
ERP: Oh ya ya ya
PHL: Kalau bisa sih, jangan ada dia juga gitu. Ntar kalau udah kelar baru ini. Saya mau kasih ‘undangan’.
ERP: Ya ya ya
PHL: Andaikata ini apa saya mampir ke rumah dulu atau gimana enaknya?
ERP: Nanti aku kontak ya
PHL: Oke saya tunggu pak ya, saya sudah meluncur soalnya. Makasih pak.

Pada hari yang sama, untuk merealisasikan janjinya Filipus bertemu dengan Edi Setiawan di halaman parkir VVIP Hotel Amarta Hills. Uang tersebut diserahkan dan diketahui tim KPK.

“Filipus bertemu dengan Edi Setiawan di restoran Hotel Amarta Hills. Pada saat kedua pihak akan berpisah di halaman parkir hotel Amarta Hills, Filipus menyerahkan sesuatu di dalam paper bag bewarna cokelat kepada Edi Setiawan yang kemudian diketahui tim KPK uang tunai sebesar Rp 95 juta,” kata Efi.

Kemudian setelah meninggalkan hotel itu, Filipus pergi ke rumah dinas Eddy untuk memberikan uang Rp 200 juta. Pada sekitar pukul 13.15 WIB Filipus masuk ke dalam rumah dengan membawa paper bag.

“Filipus masuk ke dalam rumah dinas dengan membawa paper bag di mana kehadiran Filipus telah diketahui dan ditunggu Eddy Rumpoko sebelumnya. Setelah berada di dalam rumah dinas, tim KPK mengamankan Filipus dan Eddy Rumpoko berikut uang tunai Rp 200 juta yang dibungkus dimasukan dalam paper bag bertulis BRI prioritas,” ujarnya.

Selanjutnya KPK juga mengambankan Edi Setiawan di tempat berbeda yaitu toko plastik di kota Batu. Ditemukan uang Rp 95 juta dan diakui Edi dari Filipus.

“Ditemukan uang tunai Rp 95 juta yang diakui oleh Edi Setiawan sebagai pemberian dari Filipus,” ungkapnya.

Dalam OTT tersebut selain ketiganya, KPK juga mengamankan sopir Eddy Rumpoko yakni Yunedi dan Zadim Effisiensi di kantor Keuangan dan Asset Daerah. Keduanya selanjutnya dilepaskan, sedangkan ketiganya langsung diperiksa penyidik dan dibawa ke kantor KPK.
(yld/fdn)

Berita Selengkapnya : detiknews