Novanto Ingin Jadi JC, Pengacara: Beda Dengan Nazaruddin

Jakarta – Pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya, menepis kabar bahwa rencana kliennya menjadi Justice Collaborator (JC) mengikuti jejak Nazaruddin dalam kasus korupsi. Menurutnya JC yang diajukan di Indonesia memiliki penanganan yang tidak sama.

“Tiap JC versi Indonesia beda-beda, beda kasus beda treatmentnya. Kita lihat saja, setiap orang memiliki peran itu yang perlu dibuktikan dan dibeberkan,” ujar Firman dalam pesan singkatnya, Jumat (12/1/2018).

Firman juga membantah pernyataan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah yang mengomentari soal niatan kliennya menjadi JC di kasus korupsi e-KTP. Dirasanya tidak mungkin proyek e-KTP menjadi proyek pribadi Novanto.

“Rasa rasanya tidak mungkinlah, memangnya e-KTP proyek pribadi pak Novanto. Nazaruddin di mana Novanto di mana ya bedalah,” terangnya.

Sebelumnya, Fahri menilai niat Novanto menjadi JC atau saksi pelaku yang bekerja sama dengan KPK agar masa hukumannya diperpendek. Dia melihat hal itu sebelumnya dialami oleh Nazaruddin.

“Dugaan saya, setya novanto ingin mengikuti rute Nazaruddin yang sukses menjadi JC dan akhirnya dituntut “bersahabat” atau masa2 narapidananya diperpendek. Nazar punya banyak kasus tapi paling cepat keluar Sukamiskin. Sesuatu yang tentu juga dirindukan oleh setiap orang,” kata Fahri lewat akun Twitter pribadinya seperti dilihat detikcom, Jumat (12/1).

Fahri mengatakan setelah menjadi JC, Nazaruddin tidak memberikan keterangan secara utuh. Nazaruddin, kata dia, hanya mengungkap tindakan korupsi yang dilakukan kelompok tertentu.

Menurutnya, Nazaruddin paling banyak bicara soal anggota DPR. Dia menyebut status JC Nazaruddin dengan KPK sebagai sebuah persekongkolan.

“Dalam persekongkolan itu, tugas nazar adalah; berbunyi dan diam. Berbunyi tentang satu kelompok dan diam tentang satu kelompok. Maka, anggota @DPR_RI paling banyak dibunyikan. Dan sukses membungkam banyak Orang. Maka merajalela segala kezaliman. Nazar aman,” cuit Fahri selanjutnya.
(adf/nvl)

Berita Selengkapnya : detiknews